Parigi Moutong, fokussulawesi.com – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pangan DKI Jakarta, PT Food Station Tjipinang Jaya, mulai melirik potensi beras dari Kabupaten Parigi Moutong untuk memperkuat pasokan pangan lintas daerah.
Langkah ini dinilai membuka peluang kerja sama strategis, mengingat kebutuhan beras di Jakarta sangat tinggi dan tidak dapat dipenuhi dari produksi lokal semata.
“Kami baru mengetahui bahwa Parimo justru surplus beras. Kami memang mencari daerah surplus, karena mitra kami di minimarket jumlahnya hampir 40 ribu toko. Kebutuhan itu belum bisa kami penuhi karena faktor biaya,” ungkap Kepala Divisi Komersial PT Food Station Tjipinang Jaya, Dahri Virdian Djauhari, usai pertemuan dengan Bupati Parimo di Parigi, Senin, 30 Maret 2026.
Menurut Dahri, kerja sama antardaerah menjadi langkah strategis untuk memperkuat jaringan pasokan. Meski pemetaan belum sepenuhnya rampung, kebutuhan beras perusahaan diperkirakan mencapai 300–500 ton per bulan.
Bahkan, untuk penjualan bahan baku, kebutuhan PT Food Station Tjipinang Jaya dapat meningkat hingga 8.000–10.000 ton per bulan.
“Jakarta tidak memiliki sawah. Dalam kondisi saat ini, kami juga harus berkompetisi dengan Perum Bulog yang bisa langsung membayar tunai, sementara kami membutuhkan waktu lima sampai tujuh hari. Namun, selama masih ada margin keuntungan, meskipun hanya 50 sampai 100 rupiah, tetap kami jalankan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihaknya akan menindaklanjuti pertemuan tersebut dengan peninjauan kualitas beras di Parimo. Beras kualitas medium pun tetap berpeluang diserap selama harga kompetitif dan dapat diolah menjadi beras premium untuk pasar Jakarta.
“Karena dari Sidrap saja kami beli,” tambahnya.
Selain beras, komoditas durian juga masuk dalam target awal kerja sama, terutama karena telah menembus pasar ekspor. Namun, fasilitas packing house saat ini masih terpusat di Kabupaten Sigi, sehingga pemerintah daerah mendorong pembangunan fasilitas serupa di Parimo.
Meski bukan kewenangan langsung PT Food Station, Dahri optimistis kebutuhan tersebut akan direspons mitra, mengingat pembiayaan ekspor durian telah didukung oleh pihaknya.
“Target yang kami sampaikan mencapai 100 kontainer per tahun. Hanya saja kajiannya cukup lama, sehingga realisasinya baru berjalan sekarang,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, ekspor perdana durian dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret 2026 sebanyak 27 ton, dengan pasokan seluruhnya berasal dari petani Parimo. Sementara ekspor tahap kedua dan ketiga direncanakan pada 13–14 April 2026 dengan tambahan pasokan dari wilayah Poso.
“Rencana ekspor durian kedua dan ketiga kami pada 13–14 April 2026,” katanya.
Sementara itu, Bupati Parimo, Erwin Burase, menyambut positif penjajakan kerja sama tersebut dan menilai hal ini sebagai peluang besar bagi daerahnya.
“Kami mengapresiasi kunjungan kemitraan ini. Parimo merupakan daerah surplus beras, sehingga peluang kerja sama seperti ini sangat terbuka dan strategis,” kata Erwin.
Ia menegaskan, pemerintah daerah siap mendukung penuh, mulai dari aspek produksi hingga infrastruktur penunjang, agar kemitraan dapat berjalan berkelanjutan.
“Pemerintah daerah siap memfasilitasi, baik dari sisi petani, kualitas produksi, maupun dukungan infrastruktur. Harapannya, kerja sama ini tidak hanya menguntungkan kedua pihak, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani di Parimo,” ujarnya.
Saat ini, Pemda Parimo juga tengah melakukan pendataan lahan yang disiapkan pemerintah desa untuk pengembangan durian. Program tersebut menjadi bagian dari visi daerah dalam meningkatkan kesejahteraan petani, yakni melalui pengembangan dua hektare lahan durian per desa.
“Dengan terbukanya pasar ekspor durian ini, kami mendorong pengembangan komoditas durian. Harapannya, ke depan program ini bisa menjadi peluang kerja sama dengan PT Food Station Tjipinang Jaya,” pungkasnya.















