PALU – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Kabupaten Parigi Moutong di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah. Siswa SD Muhammadiyah Pelawa, Zein Abdillah, berhasil meraih Juara 1 Lomba Bertutur tingkat SD se-Sulawesi Tengah melalui cerita rakyat Bomban Tallu.
Prestasi tersebut diraih dalam rangkaian Festival Literasi Sulawesi Tengah 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah di Kota Palu, Selasa (15/9/2026).
Lomba bertutur menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memperingati Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan (BGMHKP).
Kegiatan tersebut ditutup Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, yang sekaligus meluncurkan aplikasi perpustakaan digital IPUS Sulteng dengan tema “Literasi Bermartabat, Perpustakaan Berdaya: Berani Cerdas untuk Sulawesi Tengah Nambaso.”
Dalam sambutannya, Reny mengingatkan pentingnya membangun budaya literasi sejak dari lingkungan keluarga. Menurutnya, orang tua memiliki peran penting dalam membiasakan anak membaca dan mengenal cerita sejak usia dini.
“Dari laporan yang saya terima, pengguna IPUS sudah cukup banyak. Oleh karena itu, saya berharap anak-anak kita, para pelajar maupun masyarakat Sulawesi Tengah dapat memanfaatkan IPUS ini,” ujar Reny.
Ia juga mendorong orang tua membiasakan membaca bersama anak, termasuk membacakan dongeng sebelum tidur dan mendampingi anak ketika belajar.
Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Parigi Moutong, Hestiwati Nanga, yang hadir mendampingi kontingen daerah, mengapresiasi keberhasilan Zein Abdillah.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi anak-anak Parigi Moutong di bidang literasi sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan nilai budaya dan cerita rakyat daerah.
“Prestasi ananda Zein Abdillah adalah bukti nyata potensi besar anak-anak Parigi Moutong. Membaca dan bertutur bukan sekadar mengolah kata, melainkan cara menanamkan nilai moral, budaya, serta membangun karakter generasi muda yang cerdas,” kata Hestiwati.
Ia menegaskan, budaya literasi tidak boleh hanya tumbuh ketika anak mengikuti perlombaan. Kebiasaan membaca, kata dia, harus dimulai dari rumah dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Hestiwati pun mengajak para orang tua di Parigi Moutong membiasakan anak membaca sejak dini serta memanfaatkan fasilitas perpustakaan daerah maupun platform digital seperti IPUS Sulteng.
“Literasi tidak boleh berhenti di panggung perlombaan. Rumah adalah pondasi utamanya,” tegasnya.
Keberhasilan Zein Abdillah membawa pulang juara pertama sekaligus menjadi dorongan bagi penguatan budaya literasi dan pelestarian cerita rakyat di kalangan generasi muda Parigi Moutong.***















