Scroll untuk baca artikel
Example 500x500
Example floating
Example floating
Example 970x250
Daerah

MTQ Sulteng XXXI: Parimo Jadikan Ajang Syiar Islam dan Perkenalkan Kearifan Lokal 

12
×

MTQ Sulteng XXXI: Parimo Jadikan Ajang Syiar Islam dan Perkenalkan Kearifan Lokal 

Sebarkan artikel ini
Pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah ke-XXXI. Foto: IST

PARIGI MOUTONG, FOKUSSULAWESI.COM – Semangat kebersamaan dan kearifan lokal Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) menyala terang dalam pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah ke-XXXI. Dipimpin langsung oleh Bupati Hi. Erwin Burase dan Wakil Bupati Hi. Abdul Sahid, rombongan Kafilah Parimo menjadi pusat perhatian dalam pawai ta’aruf yang berlangsung di kawasan Taman Likuifaksi, Kabupaten Sigi, pada Minggu (7/6/2026).

Acara yang dibuka resmi oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda, seluruh bupati/wali kota se-Sulteng, tokoh agama, dan ribuan masyarakat. Namun, sorotan khusus tertuju pada Kafilah Parimo yang tampil berbeda dengan memamerkan unifikasi busana yang penuh makna.

Baca Juga:  Parigi Moutong Disiapkan Jadi Markas Baru Korem dan Denpom

Berbeda dari kafilah lain, seluruh anggota rombongan Parimo mengenakan busana batik berwarna kuning cerah dengan Motif Saga. Gagasan visioner ini berasal dari Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Parigi Moutong, Ny. Hj. Hestiwati Nanga, yang ingin menonjolkan identitas daerah.

Motif Saga bukan sekadar hiasan, melainkan simbol filosofis dari tradisi Sambulugana (sirsak) yang terdiri dari empat unsur utama: kapur, sirih, pinang, gambir, dan tembakau. Keempat elemen ini melambangkan etika, akhlak mulia, dan tali persaudaraan yang tak terputus dalam kehidupan bermasyarakat.

“Motif Saga yang kami kenakan hari ini adalah simbol bahwa keberagaman suku di daerah kami adalah kekuatan, bukan perbedaan,” ujar Bupati Erwin Burase saat menyapa masyarakat.

Baca Juga:  Optimalkan PAD, DPRD Parimo Konsultasi ke Bapenda Makassar

Erwin menambahkan bahwa MTQ kali ini bukan sekadar ajang kompetisi keagamaan, melainkan wadah strategis untuk mempererat persaudaraan antardaerah sekaligus memperkenalkan budaya Parimo. “Semangat ini sejalan dengan visi pembangunan kami, yaitu Parigi Moutong Maju, Mandiri, dan Berkelanjutan, yang kami wujudkan melalui pembangunan di tingkat desa,” tegasnya.

Kafilah Parimo mengirimkan 75 orang perwakilan yang terdiri dari:

  • 54 Peserta lomba
  • 20 Official
  • 1 Pendamping untuk peserta tunanetra

Meski menghadapi tantangan era efisiensi anggaran, mental juara kafilah ini tidak surut. Mereka tetap optimis menyasar prestasi di seluruh cabang lomba, mulai dari Tilawah, Tahfidz, Tafsir, Musabaqah Makalah Ilmiah Al-Qur’an, Fahmil Quran, Syahril Quran, hingga Kaligrafi.

Baca Juga:  Penutupan TMMD Ke-128, Bupati Parigi Moutong Tinjau Infrastruktur Jalan

Tak hanya fokus pada kompetisi, Parimo juga menggaungkan ekonomi kreatif melalui pameran Dekranasda. Pameran ini dipimpin langsung oleh Hj. Hestiwati Nanga dengan dukungan penuh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) serta OPD terkait, menampilkan produk unggulan daerah.

Kafilah Parimo menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Daerah atas dukungan penuh yang memungkinkan mereka berdiri tegak mewakili nama baik daerah. Di akhir acara, mereka menutup pawai dengan permohonan doa restu dari seluruh lapisan masyarakat Parimo.

“Di tengah keterbatasan yang ada, kami berharap para duta daerah ini dapat memberikan penampilan terbaik dan membawa pulang prestasi yang membanggakan bagi Bumi Khatulistiwa,” tutup rombongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *