Scroll untuk baca artikel
Example 500x500
Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahParigi Moutong

42 Hektare Sawah di Jantung Kota Parigi Terancam Gagal Panen

92
×

42 Hektare Sawah di Jantung Kota Parigi Terancam Gagal Panen

Sebarkan artikel ini

PARIGI, FOKUSSULAWESI.COM — Sebanyak 42 hektare sawah produktif di Kelurahan Masigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, terancam tidak menghasilkan panen setelah tanaman padi mengalami gagal tumbuh.

Kondisi tersebut ditandai dengan daun padi memutih, pertumbuhan tidak merata, tanah retak, serta lahan yang dipenuhi gulma. Padahal, sawah tersebut berada di kawasan Ring I ibu kota Kabupaten Parigi Moutong.

Ketua Kelompok Tani Sintuvulompe, Jamaludin Pari, mengatakan persoalan ini bermula dari keterlambatan penyaluran bantuan benih yang diusulkan sejak 2025, tetapi baru diterima pada pertengahan Agustus 2026.

Menurutnya, label pada karung benih menunjukkan masa kedaluwarsa pada Oktober 2026. Setelah ditanam, daya tumbuh benih diperkirakan hanya mencapai 50 persen.

Baca Juga:  Pendampingan Dana BOS Digelar, Disdikbud Parimo Dorong Pengelolaan Keuangan yang Transparan

Selain masalah benih, petani mengeluhkan minimnya pendampingan teknis dari pengamat hama dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).

“Petani membutuhkan pendampingan dan pengetahuan tentang teknik mencegah serta menangani hama. Kami butuh ilmu, bukan cuma obat,” ujar Jamaludin.

Akibatnya, petani harus mengeluarkan biaya tambahan lebih dari Rp1 juta per hektare untuk membeli obat pertanian guna menekan serangan hama.

Anggota DPRD Parigi Moutong dari Daerah Pemilihan (Dapil) I turut mendorong evaluasi distribusi bantuan benih dan pola pendampingan petani agar sesuai dengan jadwal tanam.

Ia juga menyatakan siap mengawal langkah konkret penanaman ulang yang direncanakan petani.

Baca Juga:  Parigi Moutong Siap Jadi Kawasan Militer Baru

Dari total 42 hektare lahan terdampak, sekitar 6 hingga 8 hektare direncanakan ditanami kembali secara serentak pada November 2026.

Namun, petani terkendala modal karena biaya produksi musim sebelumnya telah terkuras. Kelompok tani membutuhkan dana talangan Rp8 juta untuk sewa traktor, upah operator, dan pembelian bahan bakar.

Petani mengusulkan pinjaman lunak tanpa bunga dengan sistem yarnen atau pembayaran setelah panen pada musim berikutnya.

Upaya tanam ulang dinilai penting untuk menjaga produktivitas sawah Masigi yang menjadi salah satu penyangga pasokan beras lokal di wilayah Parigi.

Hingga berita ini diterbitkan, Fokus Sulawesi masih berupaya meminta konfirmasi Dinas Pertanian Kabupaten Parigi Moutong terkait evaluasi distribusi benih dan langkah penanganan teknis bagi petani terdampak. (Gimon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *