Scroll untuk baca artikel
Example 500x500
Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahPemda

27 Ton Durian Lepas ke China: Langkah Awal Ekspor Massal dari Parigi Moutong

8
×

27 Ton Durian Lepas ke China: Langkah Awal Ekspor Massal dari Parigi Moutong

Sebarkan artikel ini
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Parigi Moutong menggelar Dialog Optimalisasi Kualitas Ekspor Komoditas Durian Parigi di PT Sentra Pangan Sejahtera, Desa Avolua. Foto: IST

PARIGI MOUTONG, FOKUSSULAWESI.COM – Kabupaten Parigi Moutong mencatatkan nama dalam peta pertanian global. Untuk pertama kalinya, durian lokal Sulawesi Tengah yang dijuluki “Raja Durian” berhasil menembus pasar internasional secara langsung. Sebanyak 27 ton durian segar telah diekspor ke Tiongkok, menandai babak baru di mana komoditas lokal tidak hanya merajai pasar domestik, tetapi juga bersinar di kancah dunia.

Momentum emas ini menjadi fokus utama dalam Dialog Optimalisasi Kualitas Ekspor Komoditas Durian Parigi yang digelar di PT Sentra Pangan Sejahtera, Desa Avolua, Kamis (27/5/2026). Acara strategis ini dihadiri langsung oleh Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), H. Abdul Kadir Karding, beserta Bupati dan Wakil Bupati Parigi Moutong, jajaran OPD, serta ratusan pelaku usaha dan petani.

Kemenangan ekspor ini didukung oleh potensi perkebunan durian yang sangat masif di wilayah ini:

  • Luas Lahan: 1.114 hektare.
  • Pohon Produktif: Sekitar 114.103 pohon.
  • Total Produksi: Mencapai 6.000 ton per tahun.
  • Sebaran: Tersebar di 19 kecamatan.
Baca Juga:  Erwin Burase: Perbedaan Adalah Kekuatan untuk Membangun Harmoni

Bupati Parigi Moutong menegaskan bahwa kunci keberhasilan ini terletak pada standardisasi ketat dari hulu ke hilir. “Kami ingin durian daerah ini tidak hanya dikenal karena kelezatannya, tetapi juga dipercaya kualitasnya yang terjamin dan aman dikonsumsi oleh siapa saja dan di mana saja,” ujarnya. Bupati juga mengharapkan pendampingan berkelanjutan dari Barantin dan Kadin terkait bimbingan teknis dan sertifikasi ekspor.

Dialog ini juga menjadi ruang serap aspirasi yang kritis. Petani dari Desa Alo, Kecamatan Ampibabo, Pak Bakrin, mengeluhkan serangan Penyakit Bangkalan yang membuat daging buah tawar, berair, dan sulit dideteksi dini.

Menanggapi hal ini, Kepala Barantin Abdul Kadir Karding memberikan respons konkret: “Badan Karantina Indonesia akan bergerak proaktif. Kami akan segera membentuk tim khusus untuk mempelajari dan mencari solusi efektif dalam menangani penyakit bangkalan ini agar tidak lagi merugikan petani.”

Baca Juga:  Sering Longsor, Tambang Emas di Parimo Juga Rawan Narkoba

Di sisi lain, tantangan lain datang dari perilaku petani itu sendiri. Ketua Kadin Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, menyoroti kebiasaan memanen dini. Buah yang dipanen saat tingkat kematangan di bawah 70% akan jatuh ke Grade C di ruang produksi, yang memicu kerugian bagi packing house dan merusak reputasi petani.

“Petani harus bisa menahan diri. Jangan cepat-cepat mau petik hanya karena ingin cepat dapat uang. Nanti nama petani itu sendiri yang rusak di mata pembeli,” imbau Faradiba dengan tegas. Ia juga mengendus adanya dugaan permainan sortiran oleh oknum tidak bertanggung jawab dan meminta petani segera melapor untuk dimediasi.

Baca Juga:  Zulfinasran: Pengadaan Barang dan Jasa Tak Boleh Asal-asalan

Sebagai solusi jangka panjang, Kadin telah mengajukan permohonan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk menerbitkan regulasi khusus dan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Ekosistem Durian.

“Saya minta kepada Pak Gubernur untuk membentuk Satgas dan regulasi ekosistem agar petani mendapatkan kepastian hukum, serta rumah UMKM dan packing house juga aman dan nyaman dalam bekerja,” pungkas Faradiba.

Melalui sinergi kuat antara pemerintah pusat, komitmen pemda, ketegasan Kadin, dan antusiasme petani, durian Parigi Moutong siap melangkah mantap menjadi komoditas kebanggaan Indonesia di pasar dunia sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *