PARIGI, FOKUSSULAWESI.COM — Sebanyak 38 mahasiswa Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) melakukan kegiatan lapangan di Kabupaten Parigi Moutong.
Kegiatan yang berlangsung 25 September hingga 4 Oktober 2026 tersebut merupakan bagian dari pemenuhan mata kuliah Studio Proses Perencanaan. Mahasiswa diterjunkan untuk mengkaji sejumlah isu strategis wilayah, khususnya pengembangan ekonomi daerah dan pusat kegiatan lokal.
Ketua Kelompok 3, Nur Awwal Sufriansyah, mengatakan mahasiswa dibagi menjadi lima kelompok kerja dengan wilayah kajian yang berbeda.
Tiga kelompok melakukan kajian di kawasan Parigi Kota, Parigi Tengah dan Parigi Barat. Sementara dua kelompok lainnya melakukan kajian di kawasan Kasimbar dan Donggulu.
Dalam proses pengumpulan data, mahasiswa berkoordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) serta Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Parigi Moutong.
Selain mengumpulkan data sekunder dari instansi pemerintah, mahasiswa juga melakukan observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat serta inventarisasi sarana dan prasarana di wilayah kajian.
Nur Awwal mengatakan, salah satu tantangan yang ditemui dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan proses birokrasi dan akses terhadap data yang dibutuhkan untuk mendukung analisis perencanaan.
“Pengalaman di beberapa daerah menunjukkan pentingnya respons yang cepat dan keterbukaan dari instansi terkait ketika mahasiswa membutuhkan data untuk analisis pembangunan,” ujar Nur Awwal.
Menurutnya, proses administrasi yang membutuhkan waktu cukup panjang maupun keterlambatan penyediaan data dapat menjadi kendala bagi kegiatan riset mahasiswa yang memiliki batas waktu pelaksanaan di lapangan.
Meski demikian, kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa dalam membangun kemampuan komunikasi dan berinteraksi secara profesional dengan instansi pemerintah maupun masyarakat.
Nur Awwal mendorong adanya pola pelayanan data yang lebih responsif terhadap kebutuhan riset akademik dan perencanaan pembangunan.
Menurutnya, integrasi data antara Bappelitbangda dan dinas teknis dapat menjadi salah satu langkah untuk mempermudah akses informasi sekaligus meningkatkan pemanfaatan data dalam proses perencanaan.
Ia menilai hasil kajian mahasiswa dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam memetakan potensi ekonomi lokal dan menyusun perencanaan pembangunan berbasis data.
Sebaliknya, keterbukaan akses data akan membantu mahasiswa menghasilkan analisis yang lebih akurat dan relevan dengan kondisi wilayah.
“Kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah penting agar hasil riset tidak hanya menjadi kebutuhan akademik, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi pembangunan daerah,” katanya.
Melalui kegiatan lapangan tersebut, mahasiswa PWK Untad diharapkan dapat memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi wilayah sekaligus mendorong penguatan perencanaan pembangunan Kabupaten Parigi Moutong yang berbasis data. Gimon















